Kamis, 21 November 2019

Mengurangi Resiko Kematian Saat Mendaki Gunung


saffaroutdoor_mengurangi_resiko_kematian_saat_mendaki_gunung
foto from saffaroutdoors


Akhir tahun 2012 adalah titik awal menjamurnya kegiatan mendaki gunung, hal tersebut tidak terlepas dari rilisnya film “5cm” pada 12 Desember 2012 yang di sutradarai oleh Mantovani sehingga banyak menginsfirasi khususnya kaum muda untuk melakukan kegiatan mendaki gunung.

Dari menjamurnya para pendaki awam tentang kegiatan mendaki gunung ini mengakibatkan semakin banyaknya kejadian kecelakaan, kehilangan, bahkan sampai kematian dari aktifitas ini, BASARNAS mencatat telah terjadi peningkatan kecelakaan dari aktivitas ini selama 4 tahun dari tahun 2018.
Penyebab kecelakaan dari aktivitas mendaki gunung terbagi menjadi 2 macam yaitu :

1.      Faktor External (alam), faktor ini adalah  segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan alamnya sendiri, berhubung alam sulit di prediksi dengan tepat oleh manusia karena alam bisa saja berubah dengan cepat, sehingga faktor ini tidak mengenal mana pendaki profesional dan mana pendaki pemula.

2.       Faktor Internal (manusia), faktor ini adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan persiapan, pengetahuan, pengalaman dan lain sebagainya yang di miliki oleh manusia itu sendiri.

tonton video saffaroutdoor disini

Untuk mengurangi resiko kecelakaan mendaki hendaklah kita mempersiapkannya sebelum melakukan pendakian. Ada pun persiapan yang harus di persiapkan versi Saffar Outdoor sebagai berikut:

1.       Tentukan tujuan pendakian dari jauh-jauh hari
2.       Carilah partner yang lebih tahu/berpengalaman
3.       Persiapkan fisik dan mental
4.       Pelajari ilmu survival
5.       Pelajari medan gunung tujuan
6.       Persiapkan peralatan pendakian yang standart
7.       Penuhi logistik yang cukup
8.       Berdoa kepada tuhan yang Maha Esa

Ituah persiapan-persiapan yang harus di perhatikan sebelum mendaki gunung untuk menekan angka kecelakaan mendaki.
 

Minggu, 02 Juni 2019

Penyakit FoMo

Ilustrasi from Rizky Agustian

Kita adalah generasi yang seolah "diperkosa" untuk mengidap penyakit "FoMo", yaitu penyakit ingin selalu terhubung atau terkoneksi dengan orang lain khususnya di dunia maya. Apapun itu tujuannya baik itu sekedar iseng, pamer, atau hal yang baik untuk saling mengingatkan, sharing pengalaman dan lain sebagainya.

Orang yang di diaknosa mengalami penyakit FoMO akan merasa seperti POOP belum CEBOK, atau MAKAN belum MINUM, seolah seperti ada hal yang belum tuntas saat melakukan sesuatu.

FoMO atau "Fear of Missing Out" akan memaksa pasiennya untuk berkompetisi menjadi manusia terkenal, maka tidak heran banyak orang di kehidupan maya-nya banyak orang seolah seperti sedang berlomba-lomba mendapatkan like, komen, tayangan, subcribe, dan share tentang postingan dirinya.

Semakin banyak peserta lomba maka semakin banyak pula hal yang mesti dilakukan agar tidak sama satu dengan yang lainnya, peserta lomba akan dituntut melakukan 3 hal yaitu :
1. More harder (lebih keras)
2. More danger (lebih berbahaya)
3. More popular (lebih tertarik)

Kamis, 23 Mei 2019

Catatan Kecil Kepemimpinan


Catatan Kecil Kepemimpinan

foto by : Raihan fadhurahman


Kepemimpinan dalam diri seseorang tentu sangat berbeda-beda tergantung seberapa giatnya seorang calon pemimpin untuk terus belajar dan menambah jam terbangnya sebagai pemimpin.

Kegagalan dalam organisasi ialah bukan banyak atau tidak pengikut di dalamnya, melainkan ada 2 type kegagalan di dalam organisasi, yaitu :

1. Matiannya organisasi, matinya organisasi yang di maksud adalah organisasi yang tidak memiliki Visi dan Misi yang jelas untuk menjadi tujuan di organisasi tersebut.

2. Kegagalan dalam perencanaan, yaitu gagalnya melaksanakan program karena takut dengan berbagai hal sehingga program pun terbengkalai.

Seorang pemimpin yang berhasil dalam organisasi kini hanya di pandang oleh orang dengan seberapa banyaknya pengikut di dalamnya, hal itu kurang tepat di karenakan banyaknya pengikut tidak akan berarti jika kedua unsur di atas tidak di penuhi.

Mental yang kuat dan mampu untuk mensosialikan program yang kecil namun terus berkelanjutan wajib di miliki oleh seorang pemimpin, kegagalan setelah pelaksanaan bukanlah hal yang harus ditakuti, belajar dari kesalahan dan menyusunnya kemudian kembali melanjutkan giroh perjuangan adalah kunci kesuksesan pemimpin.

"Yang salah itu bukan salah, tetapi yang takut salah ialah kesalahan" begitu lah pepatah seorang guru untuk mencoba sebelum tau hasilnya, walaupun kegagalan yang di dapatnya di akhir, itu bukan merupakan suatu kesalahan, tetapi orang yang salah yaitu orang yang takut salah untuk bertindak sehingga tidak melakukan apa-apa

Berani untuk mengambil segala resiko ketika di hadapkan pada suatu persoalan pun wajib di tanamkan dalam jiwa kepemimpinan selama itu dirasa jalan yang dipilihnya merupakan jalan yang akan mengantarkannya pada Visi yang telah di rencanakan dengan matang.